Karya: Syukri Isa Bluka Teubai
Telah Diterbitkan Oleh Koran Mingguan Pikiran Merdeka Edisi 19-25 Oktober 2015
Matahari mulai bergeliat dari ufuk timur sedianya membelah malam yang kelam dengan rintik-rintik hujan embun, kini menampakkan mega-mega jingga di langit utara.
Ilustrasi
Aktifitas di pagi itu mulai terasa nyata. Hari kamis sekelompok orang berdatangan membawa bambu, kayu-kayu pondasi, terpal dan semacamnya. Lapangan luas di samping gedung Sekolah Ibtidaiyah adalah tempat semua barang-barang bawaan itu diletakkan. Setelah laki-laki yang berbadan gumpal dan berambut panjang itu berbicara, mereka membubarkan diri dari perkumpulan tadi. Kemudian barang-barang bawaan diambil dan diletakkan di sudut selatan lapangan.
Belukar adalah seorang anak laki-laki yang tampan dan cerdas, sedari tadi terduduk sendiri di depan rumahnya yang berdekatan dengan lapangan itu. Dari raut wajah mungilnya hadir rasa penasaran dan beribu tanda tanya yang sedang bergejolak di jiwa. Umurnya baru memasuki tahun ke lima. Dia masih termenung sendiri memandangi orang-orang yang sedang beraktifitas di lapangan itu.
Si Belukar masih juga memperhatikan orang-orang itu bekerja, selangkah pun dia tidak beranjak dari tempat duduknya. Begitu besar rasa penasaran anak kecil itu.Tiba-tiba dia dipanggil oleh ibunya, mahu tidak mahu dia harus bergerak. Belukar dan ibunya pergi ke pasar karena hari itu adalah hari pekan (uroe peukan) di kampungnya. Setiap kampung ada yang namanya hari pekan, biasanya seminggu ada sekali. Masyarakatnya berkumpul di situ untuk berbelanja alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
Pukul lima sore, Si Belukar dan ibunya pulang. Begitu sampai di rumah, dia langsung melihat ke arah lapangan tadi. Di sana sudah ada bangunan-bangunan seperti gubuk-gubuk kecil hampir memenuhi setengah lapangan luas itu. Dia melihat lagi ke arah selatan dan sudah berdiri satu bale -balai- besar yang bentuknya tidak karuan. Seperti ada penyesalan yang sangat besar di dalam dirinya karena dia tidak bisa melihat bagaimana gubuk-gubuk dan bale besar itu dibuat secara seksama.
Setelah shalat Jum’at, kafilah perkafilah manusia mulai berdatangan, mobil-mobil barang yang membawa alat-alat pertunjukan satu persatu merapat memasuki lapangan.
Belukar semakin bingung. Di dalam hatinya timbul pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya. Dan sang paman pun menghampirinya, menyapa dan bertanya kepadanya.
"Paken taheu that (kenapa termenung)"
"Pu ie kaleun nyan (sedang lihat apa itu)?"
"Teungeh long eu ureng rame-rame that bak lapangan nyan (saya sedang melihat orang ramai-ramai di lapangan)!"
"Ka mulai baroe ureng nyan rame-rame hinan (sudah dari kemarin orang itu ramai-ramai di situ)!"
Pamannya bernama tuan Angen, lakap untuknya karena beliau mampu mengendalikan Angin (Pawang Angen) hanya diam.
"Paman, kenapa orang itu ramai sekali di lapangan, adakah perang mulai berkecamuk lagi, ataukah suatu hal yang besar akan terjadi?"
"O, akan ada acara Piasan Seni. Orang-orang akan mempertunnjukkan karya-karyanya, seperti Rapai, Saman, Berpantun, Menari, Membaca Puisi, Bersandiwara, Bernyanyi dan akan banyak penampilan-penampilan yang akan di perlihatkan nantinya. Orang-orang itu datang dari berbagai daerah. Ini adalah acara hiburan, hiburan yang menampilkan karakter adat dan budaya kita. Menumbuhkan rasa kekeluargaan diiringi kekompakan, menjadikan kita itu satu walaupun mereka berasal dari berbagai macam daerah dengan adanya acara seperti ini kita akan merasakan kebersamaan itu. Dulu waktu paman masih kecil sangat sering ada pertunjukan-pertunjukan seperti ini Pasanggeurehang namanya dikala itu," Tuan Angen terus berkata-kata.
Itu adalah acara terbesar tahun ini. Karena acara seperti demikian sudah Dua Puluh Lima tahun tidak pernah di laksanakan. Tidak ada pemberitahuan yang pasti tentang penyebab dari dihentikannya acara itu selama ini. Semoga saja ke depan, acara seperti ini bisa di selenggarakan setiap setahun sekali. Belukar asal kamu tahu, "Piasan-piasan seperti ini tidak luput dari nilai-nilai syariat islam, karena kita orang beragama. Dengan acara-acara seperti inilah pesan-pesan agama disampaikan oleh pendahulu-pendahulu kita tempo dulu."
Hari Sabtu pukul sepuluh pagi, acara piasan seni itu di buka oleh pemuka daerah yang di beri lakap dengan nama Wali. Wali adalah orang yang dituakan dan sangat dihargai. Sang Wali menaiki panggung, memberi salam sekaligus sambutan-sambutan berisi nasehat dan mengakhiri pembicaraannya dengan membuka acara yang telah dipersiapkan itu.
Belukar pun tahu nama bale besar itu adalah Panggung. Setelah mendengar pembawa acara menyebut tempat itu dengan nama Panggung. Acara demi acara sukses di pertunjukkan pada hari itu dan berlanjut sampai pukul dua belas tepat di penghujung acara malam ahad spesial tahun itu. Belukar, dengan naluri kekanak-kanakannya menyebut acara itu adalah "Piasan Orang Gila." Acara itu seperti pemain-pemain teater, harus melakukan geraknya masing-masing. Di atas panggung terdengar suara tangisan, suara tawa terbahak-bahak, suara bengis, suara serak bercampur putus asa dan semacamnya. Karena itulah, Belukar kecil berpendapat bahwa itu bukan piasan seni, melainkan Piasan Orang Gila.
Mudah-mudahan saja keesokan harinya Si Belukar kecil bertanya lagi tentang semua itu pada pamannya tuan Angen. Dan sudah biasa sekaligus menjadi tugas besar pengendali angin itu untuk menjelaskan sejelas-jelasnya tentang acara itu kepada Si Belukar kecil dan kepada siapa saja yang belum tahu dan mengerti apa itu Piasan Seni.
Perhelatan yang sangat meriah telah selesai diwujudkan dan sekarang menjadi tanggung jawab bersama terhadap kemelut-kemelut yang akan menghampiri."Dan Alif tiada mati," Kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Tuan Angen.
No comments:
Post a Comment