Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen "Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan." #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com
Karya : Syukri Isa Bluka Teubai
Senyap,
begitulah suasana di Rumah Tengku Isa dan Ibu Manawiah pada pagi hari minggu
itu. Dua anak lelaki kesayangannya sudah pergi ke Laut, JJP (Jalan-Jalan Pagi)
istilah “mereka.” Adalah hari minggu, hari libur sekolah, kantor dan semuanya
libur dari kegiatan-kegiatan formal sedianya.
Zulfadhli
abangnya Zulfan, mereka pergi ke laut berboncengan Motor. Jalan-jalan pagi di
hari libur apalagi di minggu pagi menjadi kebiasaan akan nya, laksana sebuah
keharusan bagi “mereka” yang menganggap demikian.
“Bang
Fadhli, neu peurenoe long ba honda ile, long kop brat galak long jet long ba
honda lage droew neh (Abang, ajarin saya bawa motor, saya sangat kepingin bisa
bawa motor seperti abang),” Zulfan merengek sama abangnya untuk diajarin bawa
motor di tengah-tengah perjalanan mereka.
Adapun
jalan yang mereka lalui adalah jalan perkampungan, karena memang laut itu tidak
jauh dari rumah mereka. Jikalau perginya lewat belakang rumah orang tuanya itu
sungguh sangat dekat akan laut, tetapi harus menyeberangi sungai, dasarlah dari
itu mereka pergi dengan motor walau harus melewati jalan yang sedikit jauh,
naik motor tiadalah lagi masalah jauh akannnya.
“Jet,
pu jinoe aju long peureno? (Boleh, apa mahu abang ajarin sekarang terus),” Zulfadhli
meng iakan permintaan adiknnya itu sambil memberhentikan motornya.
Niat
yang bersahaja adakalanya untuk mengajari adik tercinta berkendara, mungkin
setiap Abang atau Kakak akan memberikan kebahagian akan kebahagian kepada
adik-adik mereka.
Diketika
belajar motor berlangsung pada pagi itu, adakalanya Zulfan sudah beberapa kali
membawa motor bolak-balik di jalan tepi laut kampungnya walau masih dibelakangnya
duduk sang abang penyayang itu. Dengan tidak sengaja mereka berjumpa kak Ira
dan bang Dun, kakak kandung dan abang ipar mereka yang kebetulan juga sedang
jalan-jalan membawa dua anak laki-laki tercinta mereka Syahri dan Azis untuk menghirup
udara segar di pagi itu.
Seketika
Zulfan memberhentikan motor itu, bang Dun menghampiri mereka dan langsung
berkata:
“Oma,
hanjet peurenoe honda ile ke ke anek mit (Aduh, jangan ajarin motor dulu untuk
anak-anak),” Cemas abang ipar mereka itu,
“Bukan
berarti tidak boleh sama sekali, tetapi belum waktunya. Apalagi Zulfan masih di
bawah umur. Umumnya umur pengendara itu diatas tujuh belas tahun, Zulfan coba,
dia masih sepuluh tahun dari umurnya. Sungguh ini sangat jelas melanggar
aturan. Bukan tidak boleh, ini pun demi keselamatan Zulfan,” Abang ipar itu
sangat cemas akan adik-adik iparnya.
“Motor
sahaja lebih gedek dari badannya, kaki pun belum menyentuh tanah bila sepeda motor
itu ia duduki, belum sanggup ianya menyeimbangi akan berat beban motor
tersebut. Sangat-sangat bahaya bagi dirinya. Bukan abang tidak izinin, jikalau
Zulfan sudah pada umur tujuh belas tahun nanti, abang janji akan membelikannya
motor apa sahaja yang ia kehendaki, adakalnya Kawasaki Ninja RR, CBR, Vixion,
Satria F, CB yang sudah di Modif, Motor Trel,
R15, atau apa sahaja yang ia sukai. Tapi ingat bukan sekarang, dan do’akan
sahaja kita semua panjang umur. Untuk si Syahri , Azis, juga adik-adik sepupu
kalian yang akan ada natinya semua akan abang belikan motor,” Cemas betul akan
abang ipar mereka itu.
“Ayo
sekarang kita singgah dulu di kedai kopi apa Leman,” ajak abang ipar itu.
Mereka semua turun untuk minum di sana. Apa Leman salah satu pedagang di tepian
laut tersebut, Kopi, Rujak, Kelapa Muda, Kacang Rebus, Jagung Bakar semua
tersedia di sana, apalagi hari-hari libur, adakalanya hari sabtu dan minggu,
rame betul orang-orang dari berbagai daerah yang dekat-dekat dengan laut itu
berdatangan ke sana. Ada yang ingin melihat-lihat pohon-pohon cemara laut yang
tumbuh berjejeran rapi dan subur di tepiannya, ada juga yang mahu menghilangkan
kejenuhan setelah beberapa hari dalam ikatan dinas, ada juga yang datang khusus
dengan keluarga walau sekedar hanya untuk makan siang sahaja di sana dan
semacamnya.
“Neu
boeh kupi saboh glah ke long, kupi pancoeng Apa beh! (Saya kopi satu, kopi pancung
ya!)” bang Dun memesan kopi, "adapun kopi pancung ialah kopi setengah gelas,
tidak penuh satu gelas."
Kak
Ira, Zulfadhli, Zulfan, Syahri, juga memesan pesanannya masing- masing. Adapun
Azis masih berusia satu tahun setengah, dia belum bisa memesan akan pesanan
itu.
Di sela-sela
menikmati kopi di kedai itu, datanglah nek Jali, Istri dan anak laki-lakinya, Aril
nama anak laki-laki gantengnya itu. Adapun nek Jali adalah relawan RAPI, dia
masih muda, “nek” itu panggilan akrab kawan-kawan untuknya di kesatuan mereka.
Selang
beberapa menit datang lagi apacut Azhari dan Istrinya, mereka pengantin baru.
Adapun apacut Azhari dia seorang guru olah raga, masih honor, seminggu cuma
mengajar dua kali dan di lain hari kerjaannya bawa mobil labi-labi (Sejenis
Angkutan Umum).
Semua
dari mereka itu saudara, di situ ada Paman, Tante, Om dan sebagainya. Di kedai
kopi apa Leman mereka berkumpul, seperti di sengaja sahaja pertemuan keluarga
itu di kedai kopi apa Leman. Setelah memesan akan semua pesanan masing-masing. Mereka
begitu larut dalam pembicaraannya, baik tentang keluarga, masalah-masalah
hangat yang baru-baru terjadi, adakalanya berita-berita di TV dan di
Surat-Surat Kabar.
Adapun
Zulfadli dan Zulfan membawa sekaligus bermain bersama-sama dan menjaga adik-adik
sepupu mereka di lapangan samping kedai kopi itu. Mereka pun larut dengan
permainannya.
“Rojer-rojer,
kala hitam masuk-kala hitam masuk, kkkhhhuuugghghg”
Beberapa
kali suara itu berbunyi, datangnya dari HT nek Jali yang ada di pinggang celana
jeansya, pria berambut panjang itu mengambil akan HT nya dan di letakkan di
atas meja kedai itu. Seksama mereka mendengarkan percakapan-percakapan di Hand
Talkking itu.
Rupanya
berita panggilan tadi di tujukan untuk Polsek Krunggeukuh, karena telah terjadi
kecelakaan di simpang Unimal. Adapun simpang Unimal ialah simpang Empat dan
simpang menuju Kampus Unimal tersebut, “simpang padat lah enak di sebut.”
Karena anak-anak kampus pulang-pergi melewati simpang itu.
‘‘Nyan,
ken ka loem (Sebentar-sebentar kecelakaan).” Kilah nek Jali,
“Padahal
jikalau semua dari kita itu patuh akan Rambu-Rambu Lalu Lintas sungguh ini
kejadian tidak akan terjadi,” “Kita tidak berbicara soal Musibah,” Musibah,
memang sudah sebuah Ketentuan, itu masuk ke dalam katagori lain.”
“Herannya
saya, anak-anak muda, balap-balapan di Jalan Raya nek!, Tidak sedikit pun
mereka peduli akan orang lain yang berkendaraan di jalan itu, tidak pakek Helm,
tidak ada Spion, Knalpot blong dan sangat-sangat tidak karuan.” Sambung apacut
Azhari, dia sangat paham akan keadaan di jalan namanya sahaja sopir Labi-Labi,
wajar akan pahamnya.
“Saya
sahaja yang pergi berbelanja barang-barang grosir sesekali waktu, takut untuk
berkendaraan di Jalan Raya.” Pungkas bang Dun. Adapun dia salah seorang pedagang
grosir di kampung itu.
“Dasar
dari itulah, bukan kita tidak suka pada orang-orang tua yang memberi izin bawa
motor untuk anak-anaknya yang masih di bawah umur, apalagi belum memiliki Surat
Izin Mengemudi, ugal-ugalan lagi di jalan. Pusing kepala saya bila memikirkan
akan orang tua yang begitu,” Kilah nek Jali lagi.
Padahalnya
orang tualah orang pertama sekali yang harus mengingatkan akan anak-anaknya
tentang, bagaimana dan sebab yang terjadi bila mana berkendaraan di jalan raya
tidak mematuhi aturan. Herannya lagi bagi orang-orang yang sering melihat
kecelakaan ataupun malah dia sendiri yang sudah mengalami akan kecelakaan,
tetapi masih juga suka ugal-ugalan di jalan. “Apa sudah tertutupkah pintu-pintu
di hati mereka itu?” nek Jali sangat geram kala membahas tentang orang-orang
yang tidak patuh akan aturan-aturan Berlalu Lintas.
Rupanya
Zulfadhli sudah dari tadi berada di antara abang ipar dan om-om nya itu,
terangguk-angguk akan kepalanya kala mendengar omongan mereka. Pahamlah akan
Zulfadhli kenapa bang Dun melarangnya mengajarkan Ipan belajar motor.
Menjadilah
tugasnya untuk memberikan penjelasan-penjelasan yang baik, lembut seyogyanya
bisa di terima dan di pahami oleh Zulfan yang masih belum cukup akan
perkiraannya tentang itu.
Setelah
membayar semua pesanan tadi, mereka berpisah dari kedai itu, Zulfadhli dan Zulfan
pun pulang bersama rombongan kakak dan abang ipar mereka karena sama-sama arah
jalan pulang.
Sesampainya
anak-anak lelaki Tengku Isa dan Ibu Manawiah itu di rumahnya, mereka melihat
sudah ada Ihsan Ambia, Fauzi, Dahri, Raju, Ruri, Bima, Feri, si Agam, Basyir
dan beberapa kawan-kawan lainnya. Adalah kesemuanya itu kawan Zulfan. Mereka
ada janji main bola hari minggu itu.
“Bukan
abang tidak mahu ajarin Zulfan lagi untuk belajar berkendara, tapi suatu sa’at
nanti Zulfan pasti akan mengerti, ma’afkan abang sayang,” Guman Zulfadhli di
dalam hatinya. Setelah dia menyeruput seteguk sirup merah dingin itu. Adalah
kehidupan, di dalam nya Aturan-aturan, Patuhi dan Jalani akan Rambu-rambu itu
Niscaya engkau akan Selamat Dunia Akhirat.
No comments:
Post a Comment