Monday, 26 October 2015

Abang, Ajarkan Aku Berkendara

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen "Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan." #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Karya : Syukri Isa Bluka Teubai

Senyap, begitulah suasana di Rumah Tengku Isa dan Ibu Manawiah pada pagi hari minggu itu. Dua anak lelaki kesayangannya sudah pergi ke Laut, JJP (Jalan-Jalan Pagi) istilah “mereka.” Adalah hari minggu, hari libur sekolah, kantor dan semuanya libur dari kegiatan-kegiatan formal sedianya.
Zulfadhli abangnya Zulfan, mereka pergi ke laut berboncengan Motor. Jalan-jalan pagi di hari libur apalagi di minggu pagi menjadi kebiasaan akan nya, laksana sebuah keharusan bagi “mereka” yang menganggap demikian.

“Bang Fadhli, neu peurenoe long ba honda ile, long kop brat galak long jet long ba honda lage droew neh (Abang, ajarin saya bawa motor, saya sangat kepingin bisa bawa motor seperti abang),” Zulfan merengek sama abangnya untuk diajarin bawa motor di tengah-tengah perjalanan mereka.
Adapun jalan yang mereka lalui adalah jalan perkampungan, karena memang laut itu tidak jauh dari rumah mereka. Jikalau perginya lewat belakang rumah orang tuanya itu sungguh sangat dekat akan laut, tetapi harus menyeberangi sungai, dasarlah dari itu mereka pergi dengan motor walau harus melewati jalan yang sedikit jauh, naik motor tiadalah lagi masalah jauh akannnya.
“Jet, pu jinoe aju long peureno? (Boleh, apa mahu abang ajarin sekarang terus),” Zulfadhli meng iakan permintaan adiknnya itu sambil memberhentikan motornya.
Niat yang bersahaja adakalanya untuk mengajari adik tercinta berkendara, mungkin setiap Abang atau Kakak akan memberikan kebahagian akan kebahagian kepada adik-adik mereka.
Diketika belajar motor berlangsung pada pagi itu, adakalanya Zulfan sudah beberapa kali membawa motor bolak-balik di jalan tepi laut kampungnya walau masih dibelakangnya duduk sang abang penyayang itu. Dengan tidak sengaja mereka berjumpa kak Ira dan bang Dun, kakak kandung dan abang ipar mereka yang kebetulan juga sedang jalan-jalan membawa dua anak laki-laki tercinta mereka Syahri dan Azis untuk menghirup udara segar di pagi itu.
Seketika Zulfan memberhentikan motor itu, bang Dun menghampiri mereka dan langsung berkata:
“Oma, hanjet peurenoe honda ile ke ke anek mit (Aduh, jangan ajarin motor dulu untuk anak-anak),” Cemas abang ipar mereka itu,
“Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi belum waktunya. Apalagi Zulfan masih di bawah umur. Umumnya umur pengendara itu diatas tujuh belas tahun, Zulfan coba, dia masih sepuluh tahun dari umurnya. Sungguh ini sangat jelas melanggar aturan. Bukan tidak boleh, ini pun demi keselamatan Zulfan,” Abang ipar itu sangat cemas akan adik-adik iparnya.
“Motor sahaja lebih gedek dari badannya, kaki pun belum menyentuh tanah bila sepeda motor itu ia duduki, belum sanggup ianya menyeimbangi akan berat beban motor tersebut. Sangat-sangat bahaya bagi dirinya. Bukan abang tidak izinin, jikalau Zulfan sudah pada umur tujuh belas tahun nanti, abang janji akan membelikannya motor apa sahaja yang ia kehendaki, adakalnya Kawasaki Ninja RR, CBR, Vixion, Satria F, CB yang sudah  di Modif, Motor Trel, R15, atau apa sahaja yang ia sukai. Tapi ingat bukan sekarang, dan do’akan sahaja kita semua panjang umur. Untuk si Syahri , Azis, juga adik-adik sepupu kalian yang akan ada natinya semua akan abang belikan motor,” Cemas betul akan abang ipar mereka itu.   
“Ayo sekarang kita singgah dulu di kedai kopi apa Leman,” ajak abang ipar itu. Mereka semua turun untuk minum di sana. Apa Leman salah satu pedagang di tepian laut tersebut, Kopi, Rujak, Kelapa Muda, Kacang Rebus, Jagung Bakar semua tersedia di sana, apalagi hari-hari libur, adakalanya hari sabtu dan minggu, rame betul orang-orang dari berbagai daerah yang dekat-dekat dengan laut itu berdatangan ke sana. Ada yang ingin melihat-lihat pohon-pohon cemara laut yang tumbuh berjejeran rapi dan subur di tepiannya, ada juga yang mahu menghilangkan kejenuhan setelah beberapa hari dalam ikatan dinas, ada juga yang datang khusus dengan keluarga walau sekedar hanya untuk makan siang sahaja di sana dan semacamnya.
“Neu boeh kupi saboh glah ke long, kupi pancoeng Apa beh! (Saya kopi satu, kopi pancung ya!)” bang Dun memesan kopi, "adapun kopi pancung ialah kopi setengah gelas, tidak penuh satu gelas."
Kak Ira, Zulfadhli, Zulfan, Syahri, juga memesan pesanannya masing- masing. Adapun Azis masih berusia satu tahun setengah, dia belum bisa memesan akan pesanan itu.
Di sela-sela menikmati kopi di kedai itu, datanglah nek Jali, Istri dan anak laki-lakinya, Aril nama anak laki-laki gantengnya itu. Adapun nek Jali adalah relawan RAPI, dia masih muda, “nek” itu panggilan akrab kawan-kawan untuknya di kesatuan mereka.
Selang beberapa menit datang lagi apacut Azhari dan Istrinya, mereka pengantin baru. Adapun apacut Azhari dia seorang guru olah raga, masih honor, seminggu cuma mengajar dua kali dan di lain hari kerjaannya bawa mobil labi-labi (Sejenis Angkutan Umum).
Semua dari mereka itu saudara, di situ ada Paman, Tante, Om dan sebagainya. Di kedai kopi apa Leman mereka berkumpul, seperti di sengaja sahaja pertemuan keluarga itu di kedai kopi apa Leman. Setelah memesan akan semua pesanan masing-masing. Mereka begitu larut dalam pembicaraannya, baik tentang keluarga, masalah-masalah hangat yang baru-baru terjadi, adakalanya berita-berita di TV dan di Surat-Surat Kabar.
Adapun Zulfadli dan Zulfan membawa sekaligus bermain bersama-sama dan menjaga adik-adik sepupu mereka di lapangan samping kedai kopi itu. Mereka pun larut dengan permainannya.
“Rojer-rojer, kala hitam masuk-kala hitam masuk, kkkhhhuuugghghg”
Beberapa kali suara itu berbunyi, datangnya dari HT nek Jali yang ada di pinggang celana jeansya, pria berambut panjang itu mengambil akan HT nya dan di letakkan di atas meja kedai itu. Seksama mereka mendengarkan percakapan-percakapan di Hand Talkking itu.
Rupanya berita panggilan tadi di tujukan untuk Polsek Krunggeukuh, karena telah terjadi kecelakaan di simpang Unimal. Adapun simpang Unimal ialah simpang Empat dan simpang menuju Kampus Unimal tersebut, “simpang padat lah enak di sebut.” Karena anak-anak kampus pulang-pergi melewati simpang itu.
‘‘Nyan, ken ka loem (Sebentar-sebentar kecelakaan).” Kilah nek Jali,
“Padahal jikalau semua dari kita itu patuh akan Rambu-Rambu Lalu Lintas sungguh ini kejadian tidak akan terjadi,” “Kita tidak berbicara soal Musibah,” Musibah, memang sudah sebuah Ketentuan, itu masuk ke dalam katagori lain.”
“Herannya saya, anak-anak muda, balap-balapan di Jalan Raya nek!, Tidak sedikit pun mereka peduli akan orang lain yang berkendaraan di jalan itu, tidak pakek Helm, tidak ada Spion, Knalpot blong dan sangat-sangat tidak karuan.” Sambung apacut Azhari, dia sangat paham akan keadaan di jalan namanya sahaja sopir Labi-Labi, wajar akan pahamnya.
“Saya sahaja yang pergi berbelanja barang-barang grosir sesekali waktu, takut untuk berkendaraan di Jalan Raya.” Pungkas bang Dun. Adapun dia salah seorang pedagang grosir di kampung itu.
“Dasar dari itulah, bukan kita tidak suka pada orang-orang tua yang memberi izin bawa motor untuk anak-anaknya yang masih di bawah umur, apalagi belum memiliki Surat Izin Mengemudi, ugal-ugalan lagi di jalan. Pusing kepala saya bila memikirkan akan orang tua yang begitu,” Kilah nek Jali lagi.
Padahalnya orang tualah orang pertama sekali yang harus mengingatkan akan anak-anaknya tentang, bagaimana dan sebab yang terjadi bila mana berkendaraan di jalan raya tidak mematuhi aturan. Herannya lagi bagi orang-orang yang sering melihat kecelakaan ataupun malah dia sendiri yang sudah mengalami akan kecelakaan, tetapi masih juga suka ugal-ugalan di jalan. “Apa sudah tertutupkah pintu-pintu di hati mereka itu?” nek Jali sangat geram kala membahas tentang orang-orang yang tidak patuh akan aturan-aturan Berlalu Lintas.
Rupanya Zulfadhli sudah dari tadi berada di antara abang ipar dan om-om nya itu, terangguk-angguk akan kepalanya kala mendengar omongan mereka. Pahamlah akan Zulfadhli kenapa bang Dun melarangnya mengajarkan Ipan belajar motor.
Menjadilah tugasnya untuk memberikan penjelasan-penjelasan yang baik, lembut seyogyanya bisa di terima dan di pahami oleh Zulfan yang masih belum cukup akan perkiraannya tentang itu.
Setelah membayar semua pesanan tadi, mereka berpisah dari kedai itu, Zulfadhli dan Zulfan pun pulang bersama rombongan kakak dan abang ipar mereka karena sama-sama arah jalan pulang.
Sesampainya anak-anak lelaki Tengku Isa dan Ibu Manawiah itu di rumahnya, mereka melihat sudah ada Ihsan Ambia, Fauzi, Dahri, Raju, Ruri, Bima, Feri, si Agam, Basyir dan beberapa kawan-kawan lainnya. Adalah kesemuanya itu kawan Zulfan. Mereka ada janji main bola hari minggu itu.

“Bukan abang tidak mahu ajarin Zulfan lagi untuk belajar berkendara, tapi suatu sa’at nanti Zulfan pasti akan mengerti, ma’afkan abang sayang,” Guman Zulfadhli di dalam hatinya. Setelah dia menyeruput seteguk sirup merah dingin itu. Adalah kehidupan, di dalam nya Aturan-aturan, Patuhi dan Jalani akan Rambu-rambu itu Niscaya engkau akan Selamat Dunia Akhirat.

No comments:

Post a Comment