Romantika Cinta
Karya,
Syukri Isa Bluka Teubai
Syukri Isa Bluka Teubai
Siang itu, sepasang sejoli datang dengan
kemesraannya. Berharap-harap tanya membuat terpana semua mata pengunjung
lainnya. Senyuman menawan selalu terlukis indah penuh kecerian menghiasi wajah
mereka.
Adik, “bang, hari ini sangat terasa indah. Lihatlah
awan itu sayang seakan dia berbicara denganku, sungguh aku merasakan itu’’.
Aura di wajah kian bertambah indah melukiskan
semangat yang menggebu-gebu di antara mereka berdua.
Abang, “iya dik, abang juga memperhatikannya.
Sungguh terasa apa yang adik katakan itu, benar sayangku’’.
Adik, “kenapa seakan waktu itu begitu cepat berlalu,
pada halnya dalam 24 jam saja sangat terasa kejenuhan itu. Andaikan aku masih
diberi akan kesempatan-kesempatan yang demikian sungguh tidak akan lagi ku sia-siakan
seperti sekarang dan kemarin walaupun hari ini itu telah berlaku’’.
Abang, “sayangku, apa lagi yang engkau risaukan itu,
cukuplah untuk cintaku saja risaumu itu’’.
‘‘Jangan engkau berandai untuk menghiasi langit
dengan warna-warnamu, padalah saja pelangi yang menghiasinya’’.
‘‘Jangan engkau berandai untuk memiliki sayap-sayap
yang indah, padalah burung-burung dan kupu-kupu yang memilikinya’’.
‘‘Jangan engkau berandai untuk menutupi cahaya
rembulan yang terang di malam hari, padalah pagi yang menutupi dengan
pelukannya’’.
‘‘Jangan engkau berandai untuk meratakan uhud,
padalah itu pada semua kemelut’’.
Adik, “cintaku, cukuplah telunjuk ini membungkam
mulutmu, diamlah dalam pelukanku, damailah dengan cintaku, jiwa dan ragaku ini
sekarang sudah menjadi milikmu’’.
Siang kelabu di hari minggu ini, bersenda penuh
gurawan cinta sang sejoli sejati, bagai kasih dan sayang hanya milik mereka
berdua. Semua mata tertuju pada sejoli itu.
‘‘Air jeruk dingin sepiring nasi. Segelas kopi hitam
semangkuk kari ayam’’.
Abang, “adikku, hari ini telah membawaku pada moment
itu, hari ini telah mengingatkanku kembali tentang apa yang sudah kita lalui
bersama, masihkah itu semua ada di beranda pikiranmu sayangku?’’
Adik, “jangan kau ceritakan itu, sungguh membuatku
pilu. Sayangku, lihatlah air-air ini keluar dari mataku. Setetes dan berlalu.
Jangan kau usap keindahan ini sayang biarkan saja mengalir padanya, aku ingin
meresapi keindahan ini. Lihatlah senyumku yang ikhlas ini masih bersemayam di
wajah renta, biarlah senyuman ini berdampingan diiringi air-air yang terus
menetes di mataku. Sungguh aku sangat bahagia hari ini’’.
Dan lagi semua mata pengunjung kedai kopi di siang
itu semakin penasaran melihat sepasang sejoli itu. Mereka saling duduk
berdekatan.
Abang, “sungguh tak bisa ku bayangkan, sungguh tak
bisa ku lukiskan, ini kenyataan aku dan kamu mengalami ini sekarang’’.
Gelora cinta yang menggebu diantara mereka seakan
menghentikan awan-awan yang sedang berjalan di langit sana pada siang itu.
Adik, “sayangku, tak terasa, sudah 63 tahun umur
pernikahan kita. Pahit manis kehidupan 63 tahun sudah terjalani’’.
‘‘Gersang dan usang sudah menjadi diri dan semua itu
sudah menyatu dengan kita’’.
‘‘Sayang kita sudah tua, umurku sudah 83 tahun dan
umurmu 87 tahun’’.
‘‘Sungguh tak terasa, ini kenyataan sayang bukanlah
sebuah cerita atau dongeng yang sering mereka ceritakan’’.
‘‘Wajah renta sangat jelas terpampang di mata,
lihatlah pada mereka yang masih muda-muda, badan tegap bak atletis berambut dan
berkumis. Kulit kencang penuh kemolekan’’.
‘‘Sedangkan kita sekarang, tidak lagi seperti
mereka. Cucu kita sudah tujuh, mereka sudah dewasa dan mungkin sebentar lagi
juga akan menikah dan berkeluarga’’.
‘‘Ingin sekali ceritaku ini pada mereka ku ceritakan,
biar mereka tau tentang kehidupan, biar mereka tau tentang percintaan,
bagaimana dan apa sebenarnya hakikat sebuah cinta?’’
Abang, “sayangku, cintaku sungguh masih padamu.
Cintaku masih seperti dulu tak ada yang berkurang sedikitpun untukmu. Jiwaku
masih muda sayang hanya jasad di tubuh saja yang terlihat tua’’.
Begitulah siang di hari minggu itu berlalu, penuh
kenangan dan keindahan yang telah terlewati. Untuk mereka cinta sejati. Hanya
mereka yang mengerti tentang mereka.

No comments:
Post a Comment