Wednesday, 21 October 2015

Cerpen | Bunga Sedap Malam

Karya: Syukri Isa Bluka Teubai



Tersebab oleh kemelut yang telah terjadi, terpaksa harus merantau meninggalkan kampung halaman tercinta.

Junaidi namanya, akibat dari satu permasalahan yang terjadi di tanah lahirnya. Dengan penuh keterpaksaan yang sangat mendalam dia merantau. Sehingga sampailah di Kota Berdataran Tinggi, berhawa dingin baik itu pada siang apalagi pada malam harinya. Adalah kota itu dinamakan oleh banyak orang dengan sebutan “Kota Dingin.”


“Hampir tiga bulan Aku berada di kota ini, sangat terasa akan kesedihan bila mengingat akan keluargaku di tanah pertama sekali Aku mengenal yang namanya Dunia. Pada halnya masalah itu, cuma salah pada perkiraan prasangka sahaja, kebetulan bermasalah dengan orang yang punya kuasa di daerahnya.” Maka beginilah jadinya. ‘‘Apakah semua dari orang-orang yang berkuasa itu akan begini perangainya?"

Junaidi menceritakan segala keluh kesahnya itu pada kawan baru di kota tersebut. Adalah kawan itu bernama Jufri. Kawan baru itu adalah penduduk asli kota tersebut. Dari nenek-nenek buyutnya dulu mereka sudah tinggal di dataran tinggi itu. ‘‘Sudah, tak usah berandai untuk mengulangi roda yang berputar pada waktu itu, hakikatnya semua ini sudah berlaku dan sekarang semua ini sudahlah berlalu. Jalani sahaja hari-harimu sebagaimananya berliku.”

Nasehat-nasehat dari Jufri tadi, rupanya bisa meredakan sedikit gundah gulana yang sedang di alami oleh Junaidi. Hari-hari kian terjalani, Junaidi pun semakin akrab dengan anak-anak muda, orang tua dan pemuka-pemuka kampung yang ia tempati sekarang. Bersamanya mereka bersama.

Adalah kegiatan di hari-hari pengisi akan kebosanan ianya berkebun. Sebidang  tanah perbukitan sudah ditanami tanaman cabai, buah-buah bergantungan di tangkai itu. Sangat banyak. Mungkin karena ikhlasnya dalam menyemai, merawat, memanjakan dengan ketulusannya akan tanaman itu. Dasarnya dia bukan dari keluarga petani, adanya dari keluarga petambak di kampungnya. "Dengan keyakinan bisa menjadikan segala sesuatu itu akan mudah, mudah untuk dilakukan," Buktinya Junaidi.

Adalah kejanggalan, sedemikiannya Junaidi menyimpan satu rahasia. Rahasia pribadi bagi dirinya. Tujuh bulan sudah dia berada di kota dingin, dinginnya malam sudah menyatu pada tubuh tinggi, ganteng, tegap tamu baru itu. Tujuh bulan juga rahasia itu tersimpan rapat melekat di hatinya.

Ngopi sama-sama di kedai kopi adalah fardhu kifayah baginya, orang-orang di kampungnya dan orang-orang di kampung ianya berada sekarang. Kedai kopi adalah tempat yang tidak asing lagi baik di telinga dan mulut mereka. Apa sahaja, ke mana sahaja, penghujung dari itu tetap berkumpul di Kedai Kopi.

Setiap selesai dari shalat magrib dia pergi ke kedai untuk ngopi jelas di kedai kopi. Bertemu muka dengan kawa-kawan, masyarakat sedianya bersosial. Setelah seharian tidak berjumpa karena disibukkan oleh kegiatan-kegiatan masing-masingnya.

Nyatalah masalah, setiap dia melewati jalan setapak menuju kedai kopi di waktunya. Berkala setiap kesempatan itu dia mencium bau wangi. Wewangian itu seakan menerbangkan langkah di kakinya. Beriringan bulu kuduk merinding, walau begitu adanya dia tetap pulang dan pergi melewati jalan itu. Anehnya, di kala siang pada hari-harinya, wangi-wangian itu sedikpun tidak tercium. Keanehan itulah yang menjadi rahasia besarnya, Junaidi dan kawan-kawan melewati jalan setapak itu. Suasananya biasa saja, dia tidak melihat sedikpun tingkah-tingkah aneh dari kawan itu. Begitu penasaran ianya dengan hal itu. Jelas dia mencium wangi yang serupa, tetap padanya wewangian malam itu. Malam besok, lusa dan beberapa bulan ke depan wangi itu tetap tercium sama olehnya.

Tujuh bulan sembilan hari sudah berlalu, rahasia itu masih juga tersimpan erat bersama pekatnya kopi di dalam gelas itu. Bertepatan pada malam minggu pertama sekali dia menginjakkan kakinya di kota dingin itu. Pulang-pulang dari kedai kopi, malam itu mereka berlima, Junaidi, Jufri, Dahari, Yusri dan Zahlul. Beriringan melewati jalan yang biasa mereka lalui, akan ia Junaidi tidak sanggup lagi menahan gejolak di dada yang terus mengguncang batin di raga terhadap rahasia penasaran itu.

Jufri, Dahari, Yusri, Zahlul, ‘‘Awak droew keuh pu na teu coem bee mangat nyoe?’’(Adakah kalian mencium wewangian ini?).

"Paken man? (Jadi kenapa?)," Jufri berbalik tanya pada Junaidi.

‘‘Aku sangat penasaran dengan wangi yang begitu, tidak pernah sekali pun dalam hidupku mencium akan wangi yang beginian.

"Kadang Aku takut  jikalau pulang melewati jalan ini," "Sebenarnya ini wangi apa?"

Ha ha ha, "That na teuh idroew keuh (Ada-ada saja kamu ini)." Jufri dan tiga kawannya itu menertawai Junaidi.

"Ini adalah wangi Bunga Sedap Malam," jawab Jufri. Dan kemudian Jufri menunjukkan akan bunga itu pada Junaidi.

Bunga Sedap Malam tumbuh berjejeran di samping jalan yang selalu di lalui oleh mereka dan masyarakat di sana. Terjawablah akan penasaran yang tersimpan rapat itu, yang begitu lama dipendam  olehnya.

Adalah Bunga Sedap Malam itu adanya cuma di kota dingin berdataran tinggi itu. Menebarkan wewangian akan ianya itu pada siapa saja di malam hari, dan sirna di waktu pagi, siang dan bahkan sore hari.

“Merantau dan berpengetahuan adalah beriringan,” ke mana pun kita pergi, pasti akan ada hal-hal baru yang ditemui sedianya, dari itulah kadang di suruh merantau.


Nyatalah pada Junaidi, beberapa tahun dalam perantauan. Walau sekarang sudah kembali pulang ke tanah tumpah darah Ibunya, dan juga masalah-masalah yang lalu sudah terselesaikan di tahun pertama ia merantau. Kini hiduplah dia menjadi penopang keluarga, menjadilah ia penyuka akan Bunga Sedap Malam. Di kesempatan-kesempatan waktu senggang. Senantiasa berkunjung ke kota dingin itu walau hanya untuk satu jam saja menikmati akan wewangiannya. "Menjadilah engkau kenangan yang paling indah," sangat teristimewa  untuk Junaidi. Tebarlah terus akan wangimu duhai Bunga Sedap Malam.

No comments:

Post a Comment