Karya: Syukri Isa Bluka Teubai
Tersebab oleh kemelut
yang telah terjadi, terpaksa harus merantau meninggalkan kampung halaman
tercinta.
Junaidi
namanya, akibat dari satu permasalahan yang terjadi di tanah lahirnya. Dengan
penuh keterpaksaan yang sangat mendalam dia merantau. Sehingga sampailah di Kota Berdataran Tinggi, berhawa dingin baik itu pada siang apalagi pada malam
harinya. Adalah kota itu dinamakan oleh banyak orang dengan sebutan “Kota
Dingin.”
“Hampir tiga
bulan Aku berada di kota ini, sangat terasa akan kesedihan bila mengingat akan
keluargaku di tanah pertama sekali Aku mengenal yang namanya Dunia. Pada halnya
masalah itu, cuma salah pada perkiraan prasangka sahaja, kebetulan bermasalah
dengan orang yang punya kuasa di daerahnya.” Maka beginilah jadinya. ‘‘Apakah
semua dari orang-orang yang berkuasa itu akan begini perangainya?"
Junaidi
menceritakan segala keluh kesahnya itu pada kawan baru di kota tersebut. Adalah
kawan itu bernama Jufri. Kawan baru itu adalah penduduk asli kota tersebut.
Dari nenek-nenek buyutnya dulu mereka sudah tinggal di dataran tinggi itu.
‘‘Sudah, tak usah berandai untuk mengulangi roda yang berputar pada waktu
itu, hakikatnya semua ini sudah berlaku dan sekarang semua ini sudahlah berlalu.
Jalani sahaja hari-harimu sebagaimananya berliku.”
Nasehat-nasehat
dari Jufri tadi, rupanya bisa meredakan sedikit gundah gulana yang sedang di
alami oleh Junaidi. Hari-hari kian terjalani, Junaidi pun semakin akrab dengan
anak-anak muda, orang tua dan pemuka-pemuka kampung yang ia tempati sekarang.
Bersamanya mereka bersama.
Adalah kegiatan
di hari-hari pengisi akan kebosanan ianya berkebun. Sebidang tanah perbukitan sudah ditanami tanaman
cabai, buah-buah bergantungan di tangkai itu. Sangat banyak. Mungkin karena
ikhlasnya dalam menyemai, merawat, memanjakan dengan ketulusannya akan tanaman
itu. Dasarnya dia bukan dari keluarga petani, adanya dari keluarga petambak di
kampungnya. "Dengan keyakinan bisa menjadikan segala sesuatu itu akan mudah,
mudah untuk dilakukan," Buktinya Junaidi.
Adalah
kejanggalan, sedemikiannya Junaidi menyimpan satu rahasia. Rahasia pribadi bagi
dirinya. Tujuh bulan sudah dia berada di kota dingin, dinginnya malam sudah
menyatu pada tubuh tinggi, ganteng, tegap tamu baru itu. Tujuh bulan juga
rahasia itu tersimpan rapat melekat di hatinya.
Ngopi sama-sama
di kedai kopi adalah fardhu kifayah baginya, orang-orang di kampungnya dan orang-orang
di kampung ianya berada sekarang. Kedai kopi adalah tempat yang tidak asing
lagi baik di telinga dan mulut mereka. Apa sahaja, ke mana sahaja, penghujung
dari itu tetap berkumpul di Kedai Kopi.
Setiap selesai
dari shalat magrib dia pergi ke kedai untuk ngopi jelas di kedai kopi. Bertemu
muka dengan kawa-kawan, masyarakat sedianya bersosial. Setelah seharian tidak
berjumpa karena disibukkan oleh kegiatan-kegiatan masing-masingnya.
Nyatalah
masalah, setiap dia melewati jalan setapak menuju kedai kopi di waktunya.
Berkala setiap kesempatan itu dia mencium bau wangi. Wewangian itu seakan menerbangkan
langkah di kakinya. Beriringan bulu kuduk merinding, walau begitu adanya dia
tetap pulang dan pergi melewati jalan itu. Anehnya, di kala siang pada hari-harinya,
wangi-wangian itu sedikpun tidak tercium. Keanehan itulah yang menjadi rahasia
besarnya, Junaidi dan kawan-kawan melewati jalan setapak itu. Suasananya biasa
saja, dia tidak melihat sedikpun tingkah-tingkah aneh dari kawan itu. Begitu
penasaran ianya dengan hal itu. Jelas dia mencium wangi yang serupa, tetap
padanya wewangian malam itu. Malam besok, lusa dan beberapa bulan ke depan wangi
itu tetap tercium sama olehnya.
Tujuh bulan
sembilan hari sudah berlalu, rahasia itu masih juga tersimpan erat bersama
pekatnya kopi di dalam gelas itu. Bertepatan pada malam minggu pertama sekali
dia menginjakkan kakinya di kota dingin itu. Pulang-pulang dari kedai kopi,
malam itu mereka berlima, Junaidi, Jufri, Dahari, Yusri dan Zahlul. Beriringan
melewati jalan yang biasa mereka lalui, akan ia Junaidi tidak sanggup lagi menahan
gejolak di dada yang terus mengguncang batin di raga terhadap rahasia penasaran
itu.
Jufri, Dahari,
Yusri, Zahlul, ‘‘Awak droew keuh pu na teu coem bee mangat nyoe?’’(Adakah
kalian mencium wewangian ini?).
"Paken man?
(Jadi kenapa?)," Jufri berbalik tanya pada Junaidi.
‘‘Aku sangat
penasaran dengan wangi yang begitu, tidak pernah sekali pun dalam hidupku
mencium akan wangi yang beginian.
"Kadang Aku
takut jikalau pulang melewati jalan
ini," "Sebenarnya ini wangi apa?"
Ha ha ha, "That
na teuh idroew keuh (Ada-ada saja kamu ini)." Jufri dan tiga kawannya itu
menertawai Junaidi.
"Ini adalah wangi
Bunga Sedap Malam," jawab Jufri. Dan kemudian Jufri menunjukkan akan bunga itu
pada Junaidi.
Bunga Sedap
Malam tumbuh berjejeran di samping jalan yang selalu di lalui oleh mereka dan
masyarakat di sana. Terjawablah akan penasaran yang tersimpan rapat itu, yang
begitu lama dipendam olehnya.
Adalah Bunga
Sedap Malam itu adanya cuma di kota dingin berdataran tinggi itu. Menebarkan
wewangian akan ianya itu pada siapa saja di malam hari, dan sirna di waktu pagi,
siang dan bahkan sore hari.
“Merantau dan
berpengetahuan adalah beriringan,” ke mana pun kita pergi, pasti akan ada
hal-hal baru yang ditemui sedianya, dari itulah kadang di suruh merantau.
Nyatalah pada Junaidi,
beberapa tahun dalam perantauan. Walau sekarang sudah kembali pulang ke tanah
tumpah darah Ibunya, dan juga masalah-masalah yang lalu sudah terselesaikan di
tahun pertama ia merantau. Kini hiduplah dia menjadi penopang keluarga, menjadilah
ia penyuka akan Bunga Sedap Malam. Di kesempatan-kesempatan waktu senggang. Senantiasa
berkunjung ke kota dingin itu walau hanya untuk satu jam saja menikmati akan
wewangiannya. "Menjadilah engkau kenangan yang paling indah," sangat
teristimewa untuk Junaidi. Tebarlah
terus akan wangimu duhai Bunga Sedap Malam.

No comments:
Post a Comment