Saturday, 17 October 2015

Sajak-Sajak | Sahabatku, Dimanakah Engkau?

Sahabatku, Dimanakah Engkau?
Karya: Syukri Isa Bluka Teubai


Kemana perginya engkau wahai saudara sahabatku
Lelah sudah mencarimu
Kemana-mana dicari tetapi dirimu tidak ditemui
Kemana lagi kami harus pergi
Laut yang luas berhari-hari sudah dijelajahi
Demi mencarimu yang sampai sekarang belum kunjung kembali
Sebenarnya dimanakah engkau?
Kenapa suka sekali membuat sensasi
Padahal dirimu bukanlah siapa-siapa
Terdengar kabar bahwa kamu dihabisi dengan pisau belati
Engkau ditusuk tepat di uluhati
Tubuhmu di buang ke tengah Laut itu
Di tempat Aku, Kamu dan Mereka mencari sesuap nasi
Jikalau memang engkau berada di situ, kenapa tidak pernah tunjukkan diri
Ini Aku kawanmu bukan musuhmu
Aku yang selalu bersamamu
Tempat engkau mengadukan cerita kesahmu
Baik tentang cinta yang sedang menderu-deru qalbu
Perasaan-perasaan jenaka
Dan semua tentangmu, Ini Aku kawanmu.
Hari rabu beberapa tahun lalu
Engkau pergi melaut
Sangat terasa pilu menyelimutiku setelah Aku tau tentang kabarmu
Air mata terus bercucuran bagaikan ada kran di situ
Terus air-air itu mengalir sampai tidak sadarkan diri
Seperti bermimpi tetapi bukan, ini benar terjadi
Seiring, tujuh malam lampu-lampu di rumahmu tidak pernah padam dan Aku pun di situ
Kala terucap namamu di mulut mereka
Bagai tertancap di hatiku lembing berbisa
Terucap lagi dan tertusuk lagi
Terucap lagi dan tertusuk lagi
Aku tidak tahan mendengar semua itu
Padahal minggu kemarin kita masih bersama-sama
Aku sangat mengingat itu
Rokokku habis dan meminta satu batang darimu
Banyak sekali ceritamu dan engkau menceritakan tentang semuanya
Semua yang berkaitan denganmu
Aku mengangguk-angguk bisu
Aku sangat terharu ketika kau ceritakan
Bahwa adik perempuan semata wayangmu itu mau kau sekolahkan ke luar Negeri
Mau kau sekolahkan dia di tanahnya Elizabeth
Katamu “Walaupun aku tak bisa membaca dan hanya lulus pada sekolah dasar saja tapi cita-citaku tinggi setinggi bintang-bintang di langit itu, makanya aku menginginkan dia untuk kusekolahkan di situ’’
Dan lagi yang membuatku seakan mau ikut mati denganmu
Ketika engkau menyumpahiku untuk melanjutkan cita-cita ituapabila engkau telah tiada, kau berkata padaku, untukku kau bersumpah ‘‘Jagalah adik perempuan semata wayangku wujudkan cita-citanya itu maka berbahagialah aku jikalau aku telah tiada kelak’’
Sepertinya engkau telah tau tentang kematianmu
Sehingga dengan beraninya engkau menyumpahiku
Aku tahu ayahmu sedang sakit-sakitan
Beberapa bulan tidak bisa makan, Aku tau itu
Teganya engkau menyumpahiku begitu
Seperti Aku bukan kawanmu
Seperti Aku tidak mengerti keadaan keluargamu
Seperti Aku tidak pernah sekali pun ke Rumahmu
Teganya engkau padaku
Aku tau perihal keluargamu
Sering sekali Aku ke Rumahmu bahkan pondok bambu itu bagaikan sudah menjadi milikku
Aku paham keluh kesah keluargamu
Aku mengerti itu dan teganya engkau membuatku selalu menangis
Selalu Aku menangis, selalu Aku meneteskan air mata ini
Tiadalah hari-hari bagiku apabila tidak ada air yang membasahi mata
Seperti itu memang sudah ketentuan
Aku sadar memang itu ketentuan bagiku dan bagimu
Canda-candamu terus terkenang tak bisa di hilangkan oleh manusia ataupun masa walau bagimanapun itu

Banda Aceh, 5 Mei 2013

No comments:

Post a Comment